Minggu, 17 April 2011

Arti hama (pest)
Secara umum, hama atau pest diartikan sebagai jasad pengganggu (jasad renik, tumbuhan, dan hewan). Pada perkembangannya, istilah hama didefinisikan dengan lebih khusus, yaitu hewan yang mengganggu manusia, dan dipersempit lagi menjadi hewan yang mengganggu tanaman (tumbuhan yang diupayakan manusia), maka dikenal istilah Hama Tanaman (Pests of Crops). Tetapi sekali lagi, jangan salah bahwa pengertian hama itu sebenarnya lebih luas dari sekedar Hama Tanaman, karena ada juga Hama Rumah Tangga (misalnya, kecoa, kutu busuk, nyamuk dan sebagainya), Hama Ternak (misalnya, serangga vektor penyakit pada ternak), dan sebagainya. Jasad lain, yaitu tumbuhan dan jasad renik kemudian diberi label gulma dan penyakit. Kemudian, jika ketiga kelompok jasad pengganggu tersebut mengganggu tanaman, maka disebut sebagai Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Penasbihan satu jenis hewan pengganggu sebagai hama bersifat antroposentrik, sehingga sangat relatif. Misalnya, di daerah transmigran di Sumatra, gajah dan kera dianggap sebagai hama karena menyerang dan merusak tanaman. Namun, di daerah lain, jika gajah dan kera hidup di habitat aslinya dan tidak merusak usaha manusia, maka mereka tidak dianggap sebagai hama. Sebaliknya, hewan yang pada mulanya tidak dianggap sebagai hama, jika pada suatu saat populasinya meningkat dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi manusia, maka dapat dianggap sebagai hama. Contoh, wereng coklat yang populasinya masih di bawah Ambang Ekonomi, dan tentunya tidak menimbulkan kerugian pada tanaman padi, maka tidak akan dianggap sebagai hama. Setelah populasinya meledak dan menimbulkan dampak ekonomis, barulah dianggap sebagai hama.
Arti penting hama
Sebagai “perusak”, bagaimanapun juga, hama mempunyai arti yang sangat penting. Kerusakan yang diakibatkan oleh hama dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Kerusakan kualitatif terjadi jika aktivitas makan (maupun reproduksi) hama mengakibatkan penurunan mutu hasil. Sebagai contoh, buah jambu biji atau air yang diserang larva lalat buah (Diptera: Tephritidae) mungkin tidak akan terpengaruh secara kuantitas, namun secara kualitas (mutu) konsumen enggan mengkonsumsi buah yang dihuni oleh larva (set atau sindat) tersebut. Contoh lain, lembaran daun tembakau yang terlubangi, meskipun kecil, oleh larva Heliothis armigera akan ditolak oleh pabrik cerutu. Sementara itu, kerusakan kuantitas terjadi jika serangan hama mampu menurunkan hasil panen secara nyata.
Oleh karena itu, arti penting satu jenis hama sebagai hama bersifat relatif juga jika dilihat dari segi nilai ekonomis tanaman atau bagian tanaman. Misalnya, H. armigera tidak dianggap merusak tembakau secara kualitatif jika hama ini makan pada daun tembakau yang tidak digunakan sebagai pembungkus cerutu, artinya daun tembakau tidak mempunyai nilai ekonomis yang amat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sudut pandang yang lain, yaitu seberapa besar mereka merusak bagian tanaman yang bernilai ekonomis tinggi. Tungau mungkin tidak dianggap sebagai hama ketela pohon, karena aktivitas makan dan berbiak mereka pada daun tidak akan mampu menurunkan hasil umbi ketela secara nyata.
Macam agensia hama
Ada empat filum yang menyumbang peran sebagai hama, yaitu nemathelminthes (golongan cacing renik), moluska (golongan hewan lunak semacam siput dan bekicot), artropoda (tungau dan serangga), dan chordata (hewan bertulang belakang misalnya kera, tikus, dan sebagainya). Masing-masing kelompok mempunyai ciri tanda serangan yang khas, yang biasanya dihubungkan dengan jenis alat mulut dan perilaku khas, dan sering digunakan untuk mengidentifikasi kehadiran mereka (ada ilmu “peramalan” juga lho di sini, meramal jenis hama tanpa kehadiran mereka ^-^).
Dinamika populasi hama dan kerugian ekonomi
Pada galibnya, seperti halnya pada jasad yang lain, dinamika populasi hama dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor abiotik (tak hidup) dan biotik (hidup). Faktor abiotik, misalnya kesuburan tanah, suhu dan kelembaban, dan curah hujan, sedangkan faktor biotik, misalnya musuh alami dan pesaing. Kedua faktor tersebut akan berjalin-kelindan mempengaruhi dan menentukan populasi hama melalui suatu mekanisme yang rumit. Oleh karena itu, tidak mudah untuk menentukan faktor penyebab dinamika populasi hama.
Lebih lanjut, ada beberapa faktor yang menyebabkan populasi hama berkembang drastis dan menjadi sebuah “ledakan hama” yaitu:
  1. Penanaman monokultur sepanjang waktu dan tempat, contoh padi.
  2. Penanaman jenis tanaman unggul produksi , tetapi peka hama.
  3. Penanaman jenis tanaman baru di suatu daerah sehingga belum ada musuh alami hama (kemungkinan juga baru) di lokasi baru tersebut.
  4. Penggunaan bahan kimia: pupuk buatan, pestisida, hormon tumbuh, pengairan dll yang berlebihan.
  5. Penggunaan pestisida sintetik berspektrum lebar yang dilakukan secara tidak bijaksana, terus menerus dan berlebihan. Hal ini menimbulkan resistensi, resurjensi, dan mungkin ledakan hama sekunder.
  6. Faktor lain, misal terjadinya penyimpangan cuaca dan iklim, misalnya LaNina, ElNino dan sebagainya.
Masalah terbesar yang diakibatkan oleh hama adalah jika populasinya meningkat sangat tajam dan menimbulkan kerusakan yang amat parah, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi (melampaui nilai Ambang Ekonomi). Jadi, sebenarnya, keberadaan mereka pada tanaman sah-sah saja dan bukan menjadi ancaman berarti jika populasinya di bawah Ambang Ekonomi. Namun, kebanyakan petani menganggap bahwa keberadaan hewan pada tanaman selalu dianggap sebagai “ancaman” yang mesti ditangkal, dilawan, dan kalau perlu dienyahkan! Walah, kayak perang saja ya…. Coba bayangkan, jika di lahan Anda terdapat beberapa ekor wereng coklat saja, apakah layak mereka dianggap sebagai hewan “jahat” yang harus dilenyapkan? Hmmm…kayaknya kok berlebihan ya??
Tunggu posting selanjutnya ya. Istirahat dulu ahhh……
Regard,
Nugroho S. Putra
E-mail: nugrohoputra27@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar